Kupas Dasar Hukum Qurban Idul Adha Atas Nama Orang Lain

Tidak lama lagi Umat muslim yang berada di seluruh dunia akan merayakan hari raya Idul Adha. Sebuah momentum perayaan paling besar kedua sesudah Idul Fitri. Dibalik ramainya Idul Qurban di beberapa pekan mendatang, pasti banyak pertanyaan yang muncul di dalam kehidupan sehari-hari mengenai Idul Qurban ini. diskusi atau pertanyaan biasanya berujung pada pengertian dasar hukum Qurban Idul AdhaSalah satu fenomena yang masalah yang sering muncul di tengah masyarakat entah di ruang-ruang atau di masjid adalah bolehkah berqurban dengan nama orang lain?

 

Pada pertanyaan tersebut, jika dari keutamaannya ibadah Idul Qurban adalah salah satu dari begitu banyak ibadah yang menjadi syiar Islam atau corong untuk menyebarkan kebaikan Islam. Di dalam Idul Qurban terdapat momentum paling baik untuk mewujudkan dan membuktikan rasa syukur atas begitu banyaknya nikmat yang diberikan Allah serta segala ketaatan hamba pada tuhannya. Di tiap pelaksanaan Idul Qurban tersimpul sebuah keberkahan yang tidak bisa dihargai dengan nominal rupiah yang dibayarkan untuk membeli ternak.

 

Hukum qurban yang banyak dipegang oleh kesepakatan Ulama ialah Sunnah Muakkadah atau sunnah diutamakan. Lantas diutamakan pada siapa sunnah ini? hukum qurban merupakan sunnah untuk mereka yang mampu serta berkecukupan untuk melaksanakan ibadah tersebut. Bila mampu tetapi meninggalkan atau tidak sempat melaksanakan ibadah kurban dengan berbagai macam alasan, hukumnya ialah makruh.

 

Lantas, bagaimana dengan konteks bila terdapat umat yang mampu tetapi ingin memberi kebaikan pada saudara atau pun orang paling dekat namun tidak mampu berkurban saat Idul Qurban, kemudian ia berkurban atas namanya sehingga saudaranya yang kurang mampu bisa memperoleh pahala kebaikan. Di dalam konteks demikian, bagaimana penjelasan hukumnya? Apakah ibadah yang disedekahkan sah menurut hukum.

 

Sebenarnya, di dalam kajian ibadah Idul Qurban memang terdapat bentuk berqurban yang diberikan atas nama orang lain. Bentuk dari hal ini terdapat dua macam yakni muslim yang berqurban dengan nama orang lain, yang telah meninggal, berdasarkan kesepakatan para ulama hal ini sah menurut hukum qurban, tetapi di dalam mazhab syafi’i lainnya lebih dikuatkan tidak sah atas nama orang lain yang telah meninggal, kecuali orang yang telah meninggal sudah memberikan wasiat sebelumnya. Di dalam konteks ini, seorang muslim yang mampu dan melakukan ibadah Idul Qurban atas nama orang lain yang masih sehat dan hidup, untuk kasus ini ulama berpendapat bahwa hukumnya tidak sah, kecuali bila tindakan ini sudah mendapatkan izin orang yang diberi qurbannya. Mengapa bisa demikian? Alasannya tidak lain karena berqurban merupakan amalan ibadah yang segalanya di mulai dengan sebuah niat. Sehingga dalam melakukan ibadah ini juga harus didasari dengan niat.

Desain Model Teralis Pintu Rumah Minimalis

Dengan adanya harmoni, maka pintu rumah anda bisa menyumbang dekorasi yang bagus untuk rumah keseluruhan. Jika tidak, maka hal itu hanya akan merusak desain dan dekorasi rumah yang sudah anda susun sedari awal. http://marblediningtable.biz

Selain itu, penting juga jika misalnya anda ingin memilih model teralis pintu rumah minimalis untuk mempertimbangkan kesesuaian yang sama. Model ini sebenarnya sudah jarang dipergunakan untuk model rumah modern. akan tetapi jika anda merasa bosan dengan model yang biasa, maka tak ada salahnya anda mencobanya. http://trundlebedframe.biz

Rumah Minimalis merupakan bahasan yang menyenangkan bagi yang ingin memiliki tempat idaman di bumi ini. Semoga artikel ini bisa memberikan pemikiran untuk anda jikalau mau mempunyai keinginan sebuah rumah yang elegan dan nyaman bagi lingkungan keluarga kecil anda.

Desain Model Teralis Pintu Rumah Minimalis

Setelah melihat enam model pintu rumah minimalis yang paling umum digunakan di atas, maka kini anda sudah pasti lebih mudah dalam menentukan yang manakah yang akan anda gunakan untuk rumah anda dengan berbagai spesifikasinya. Yang mana pun yang kemudian akan anda pilih, sangat penting mempertimbangkan kesesuaian antara pintu dengan beberapa aspek rumah lainnya.

Misalnya antara pintu dengan fungsi pintu itu sendiri pada gerbang utama atau pada pintu minor, ataupun mengenai kesesuaian model pintu yang digunakan dengan kusen jendela baik dalam hal warna ataupun bentuk.

Asalkan anda bisa mempertimbangkan kesesuaian tersebut, hasil yang bagus pasti bisa anda raih. model pintu rumah minimalis ada beberapa macam yang umum dipilih. Memilih salah satu dari mereka sangat penting didasarkan pada kesesuaian.

Demikian semoga bisa memberikan anda pertimbangan sebelum melakukan tindakan dalam membangun sebuah tempat tinggal yang di harapkan untuk masa depan keluarga dalam menempati sebuah hunian yang bagus dan menarik bagi anda pribadi maupun istri dan anak – anak anda.

Islamic Center Samarinda, Masjid Dengan Kubah Yang Besar

Masjid Islamic Center Samarinda yaitu masjid yang terdapat di kelurahan Teluk Lerong Ulu, Kota Samarinda, Kalimantan Timur, Indonesia, yang disebut masjid termegah serta paling besar ke-2 di Asia Tenggara sesudah Masjid Istiqlal. perlu referensi Dengan latar depan berbentuk tepian sungai Mahakam, masjid ini mempunyai menara serta kubah besar yang berdiri tegak.

Masjid ini mempunyai luas bangunan paling utama 43. 500 mtr. persegi. Untuk luas bangunan penunjang yaitu 7. 115 mtr. persegi serta luas lantai lantai dasar 10. 235 mtr. persegi. Sesaat lantai basic masjid seluas 10. 270 mtr. persegi serta lantai paling utama seluas 8. 185 mtr. persegi. Sedang luas lantai mezanin (balkon) yaitu 5. 290 mtr. persegi. Tempat ini terlebih dulu adalah tempat sisa areal penggergajian kayu punya PT Inhutani I yang lalu dihibahkan pada Pemerintah Propinsi Kalimantan Timur.

Bangunan masjid ini mempunyai sejumlah 7 menara dimana menara paling utama setinggi 99 mtr. yang berarti asmaul husna atau beberapa nama Allah yang jumlahnya 99. Menara paling utama itu terdiri atas bangunan 15 lantai semasing lantai setinggi rata-rata 6 mtr.. Disamping itu, anak tangga dari lantai basic menuju lantai paling utama masjid jumlahnya sejumlah 33 anak tangga. Jumlah ini berniat disamakan dengan sepertiga jumlah biji tasbih.

Histori Masjid Islamic Center Samarinda – Kaltim

Pembangunan Islamic Center diinginkan bisa menghidupkan semangat kebersamaan dalam usaha hadapi masa global, terkecuali adalah tuntutan orang-orang untuk Samarinda mempunyai satu fasilitas tempat beribadah yang ideal. Tempat tempat berdirinya ini terlebih dulu adalah areal penggergajian kayu punya PT. Inhutani I yang lalu dihibahkan pada Pemerintah Propinsi Kalimantan Timur. Project Islamic Center Samarinda didanai dengan dana APBD Pemerintah provinsi Kalimantan Timur di bawah Gubernur Kalimantan timur (waktu itu) Suwarna Abdul Fatah.

Sistem perencanannya melibatkan konsultan perencana arsitektur PT. Anggara Architeam, perencana susunan PT. Perkasa carista estetika, Perencana M&E oleh PT. Meco Systech Internusa serta perencana estetika Biro Arsitektur Achmad Noe’man. Konsultan pengawas yang mengawasi jalannya pembangunan ICS Kalimantan timur dipercayakan pada PT. Adiya Widyajasa sedang proses pembangunannya dipercayakan pada Kontraktor PT. Keseluruhan Bangun Persada Tbk.

Terkecuali menara paling utama, bangunan ini mempunyai 6 menara dibagian bagian masjid. Semasing 4 di tiap-tiap pojok masjid setinggi 70 mtr. serta 2 menara dibagian pintu gerbang setinggi 57 mtr.. Enam menara ini berarti jadi 6 rukun. Untuk info lebih komplit mengenai Masjid Islamic Center Samarinda ilahkan saksikan disini

Rancangan menara MICS di-ilhami dari menara masjid Nabawi di Madinah Almukarromah, serta kubah masjid intinya di-ilhami masjid Haghia Sophia di Istambul – Turki. Tempati ruang seluas +/- 8 hektar, sediakan tempat terbuka untuk orang-orang kota Samarinda, termasuk juga ruang parkir serta taman yang luas komplit dengan pohon kurma yang ditanam di halaman depan lokasi masjid mendatangkan kesan Timur Tengah di kota Samarinda. Luas bangunan paling utama Islamic Center Samarinda seluas 43. 500 m2, luas bangunan 7. 115 m2, luas lantai lantai dasar 10. 235 m2, sesaat lantai basic masjid seluas 10. 270 m2, serta lantai paling utama seluas 8. 185 m2, sedang luas lantai mezanin 5. 290 m2.

Masjid Tertua di Pontianak : Masjid Sultan Syarif Abdurrahman

Masjid Sultan Syarif Abdurrahman dibangun oleh Sultan Syarif Abdurrahman saat pertama kalinya buka lokasi rimba persimpangan tiga Sungai Landak Sungai Kapuas Kecil serta Sungai Kapuas th. 1771. Tempat yang saat ini di kenal jadi kota Pontianak. Sultan Syarif Abdurrahman juga membuat Istana tidak jauh dari masjid ini. .

Dalam perubahannya, lalu berlangsung perselisihan pada Sultan dengan al-Habib Husein. Pada akhirnya, al-Habib mengambil keputusan untuk meninggalkan Kerajaan Matan, geser ke Kerajaan Mempawah serta menetap di kerajaan itu sampai ia wafat dunia. Sesudah al-Habib Husein wafat dunia, tempatnya digantikan oleh anaknya. Syarif Abdurrahman. Walau demikian, Syarif Abdurrahman lalu mengambil keputusan pergi dari Mempawah dengan maksud untuk menebarkan agama Islam.

Syarif Abdurrahman lakukan perjalanan dari Mempawah dengan menyusuri sungai Kapuas. Turut dalam rombongannya beberapa orang yang menumpang 14 perahu. Rombongan Abdurrahman hingga di muara persimpangan Sungai Kapuas serta Sungai Landak pada 23 Oktober 1771. Lalu buka serta menebas rimba di dekat muara itu untuk jadikan daerah permukiman baru, termasuk juga bangunan Masjid serta Istana serta membuat Kesultanan Pontianak.

Kontraktor Kubah Masjid yang dibuat aslinya beratap rumbia serta konstruksinya dari kayu. Saat Syarif Abdurrahman wafat pada 1808 Masehi kekuasaanya diteruskan sesaat saat oleh adiknya yang bernama Syarif Kasim karna putera Syarif Abdurrahman yang bernama Syarif Usman masih tetap kanak-kanak saat ayahnya wafat dunia. Sesudah Syarif Usman dewasa, dia menukar pamannya jadi Sultan Pontianak pada th. 1822 s/d 1855 Masehi. Pembangunan masjid lalu dilanjutkan Syarif Usman, serta diberi nama jadi Masjid Abdurrahman, jadi penghormatan serta untuk kembali kenang bebrapa layanan ayahnya.

Mulai sejak kubah masjid ini dibangun, terkecuali berperan jadi pusat beribadah, juga dipakai jadi basis penebaran Agama Islam di lokasi itu. Sebagian ulama populer yang sempat mengajarkan Agama Islam di masjid ini salah satunya Muhammad al-Kadri, Habib Abdullah Zawawi, Syekh Zawawi, Syekh Madani, H Ismail Jabbar serta H Ismail Kelantan.

Kubah Masjid Sultan Abdurrahman ada didalam lingkup Kampung Beting, Kelurahan Dalam Bugis Kecamatan Pontianak Timur, Kota Pontianak, provinsi Kalimantan Barat. Tempat masjid tua ini ada di lokasi pemukiman padat masyarakat dengan pasar Ikan yang demikian dekat ke bangunan masjid yang menghadap ke Sungai Kapuas. Masjid Jami’ bisa di jangkau dengan memakai sampan dari pelabuhan Seng Hie atau mungkin dengan kendaraan darat melalui jembatan kapuas.

Kubah Masjid Jami’ Sultan Syarif Abdurrahman berdenah sisi empat memiliki ukuran 33, 27 mtr. x 27, 74 mtr., dikelilingi oleh selasar melingkar berpagar bisa menyimpan sekitaran 1. 500 jamaah salat sekalian. Sisi dalam masjid terbagi dalam 26 shaf, tiap-tiap shaf bisa menyimpan sekitaran 50 jemaah ditambah dengan ruang selasarnya.

kubah Masjid akan penuh terisi jamaah salat, waktu saat salat Jumat serta tarawih Ramadan. Bangunan masjid dari kayu bulian ini dibuat layaknya seperti bangunan bangunan orang-orang sekitaran yang berbentuk tempat tinggal panggung. Tiang kayu masjid ini semula segera bersentuhan dengan tanah tetapi saat ini telah di cor setinggi 50 sentimeter diatas permukaan serta 50 sentimeter kedalam tanah untuk menghindar pelapukan

kubah Masjid Sultan Syarif Abdurrahman nyaris keseluruhnya bangunan memakai kayu bulian, warna kuning menguasai dinding kayu masjid ini sesaat plafonnya dicat dengan warna hijau seperti kubah masjid di masjid darusalam samarinda yang juga bewarna hijau . Warna kuning melambangkan keagungan sedang warna hijau melambangkan warna kenabian atau ke-Islaman. Atap masjid bertumpuk empat ditutup lembaran lembaran kayu bulian memiliki ukuran semakin besar dari atap sirap umum. Pada atap paling bawah serta ke-2, ada celah yang dipakai untuk jendela. Jendela itu melingkari semua celah itu, hingga ruangan dalam cukup memperoleh sinar pada siang hari.

Diatas atap ke-2, ada teras yang cukup luas berupa sisi empat panjang, di tiap-tiap sudutnya ada gardu. Karna ada empat pojok, jadi ada juga empat gardu. Menurut beberapa warga setempat, gardu itu dahulu dipakai jadi tempat mengumandangkan azan. Tetapi, ada juga yang menginterpretasikannya jadi lambang dari empat teman dekat Nabi Muhammad sebagai Khulafa’ al-Rasyidin yaitu Abu Bakar As Siddiq, Umar Bin Hattab, Usman Bin Affan serta Ali Bin Abi Thalib.

Teras diatas susunan atap ke-2 ini melingkari satu unit bangunan yang berdenah sisi empat. Diatas unit ini ada atap lapis ke-3. Diatas atap lapis ke-3 ada sekali lagi unit kecil seperti gardu, berperan jadi menara. Atap menara ini bersisi empat dengan dudur yang membuat penampang huruf S. Hingga keseluruhannya menara ini berupa seperti lonceng.

Untuk akses keluar masuk masjid, ada tiga pintu paling utama yang tingginya sekitaran 3 mtr.. Satu pintu tempatnya dibagian depan, satu di bagian kiri serta satu sekali lagi di bagian kanan. Diluar itu, diantara pintu-pintu besar itu, masih tetap ada sekali lagi 20 pintu beda dengan ukuran yang sedikit lebih kecil (tinggi kurang lebih 2 mtr.).

Semuanya pintu di masjid ini mempunyai dua daun yang buka keluar. Bahan intinya dari kayu belian serta kaca warna-warni yang berupa kotak-kotak besar. Uniknya, peranan pintu nyatanya sebagai jendela. Jenis pintu masjid ini sama juga dengan tempat tinggal jenis lama. Bentuk serta ukuran pintunya sama juga dengan jendela. Cuma saja di empat pintu sisi depan, berniat dipasangi papan pagar hingga memiliki bentuk terlihat lebih kecil serta seperti jendela jaman saat ini.

Masjid Tertua di Samarinda : Masjid Shirothal Mustaqim

Kota Samarinda dipercayai dibangun oleh orang Bugis dari Kerajaan Gowa sesudah Kerajaan Gowa ditaklukkan oleh Belanda sekitaran era 16. Beberapa pejuang Bugis yang menentang Belanda pilih untuk berhijrah ke daerah yang dikuasai oleh Kerajaan Kutai saat itu. Kehadiran mereka ini diterima baik oleh Raja Kutai yang diperlihatkan dengan pemberian tempat pemukiman di sekitaran kampung melantai, satu daerah dataran rendah yang baik untuk usaha Pertanian, Perikanan serta Perdagangan.

Dengan kesepakatan kalau beberapa orang Bugis Wajo mesti menolong semua kebutuhan Raja Kutai, terlebih di dalam hadapi musuh. Beberapa orang Bugis Wajo mulai tinggal di tempat itu pada bln. Januari 1668. Lama kelamaan lokasi ini berkembang serta di kenal dengan sebutan Samarinda, yang datang dari kata “sama rendah” yang ditujukan untuk tunjukkan kesamaan hak serta kedudukan orang-orangnya.

Sekitaran th. 1880, datang seseorang pedagang muslim dari Pontianak, Kalimantan Barat bernama Said Abdurachman bin Assegaf ke Kerajaan Kutai untuk berdagang sambil menyiarkan Agama Islam, ia pilih lokasi Samarinda Seberang jadi rumahnya. Hal tersebut disikapi dengan baik oleh Sultan Kutai Aji Muhammad Sulaiman. Lihat ketekunan serta ketaatan Said Abdurachman dalam menjalaankan syariat agama Islam, sultan mengizinkan Said Abdurachman tinggal di lokasi Samarinda Seberang serta memberikannya titel jadi Pengeran Bendahara.

Jadi tokoh orang-orang, Said Abdurachman mengemban pekerjaan serta tanggungjawab yang besar. Bermula dari keprihatianannya pada keadaan orang-orang saat itu yang masih tetap sukai berjudi (disiang hari judi sabung ayam, malam hari judi dadu) serta memyembah berhala, beliau tergerak hati untuk membuat satu masjid yang tempatnya di pusat aktivitas itu dengan keinginan bisa hentikan aktivitas maksiat serta sesat itu.

Pembangunan masjid ini diawali pada th. 1881M dengan pemancangan 4 tiang paling utama (soko guru). Ke emat soko guru itu adalah sumbangan dari tokoh kebiasaan saat itu, 1 tiang paling utama dari Kapitan Jaya dihadirkan dari loa Haur (Gunung Lipan), 1 tiang paling utama dari Pengeran Bendahara dihadirkan dari Gunung Dondang, Samboja, 1 tiang paling utama dari Petta Loloncang di datangkan dari Gunung Salo Tireng (Sungai Tiram) serta 1 tiang paling utama yang lain dari dihadirkan dari Suangai Karang. Pemancangan empat sokoguru ini mempunyai narasi sendiri yang melegenda sampai saat ini ditengah orang-orang Samarinda.

Pembangunan masjid ini menelan saat cukup lama untuk merampungkannya hingga sepuluh th.. Pada tanggal 27 Rajab 1311 Hijriyah (1891M), pembangunan masjid pada akhirnya rampung serta diresmikan oleh Sultan Kutai Aji Muhammad Sulaiman yang sekalian di daulat jadi imam sholat untuk pertama kalinya yang diadakan di Masjid Shirothal Mustaqim. Lokasi tempat masjid ini ada juga lalu beralih keseluruhan jadi lokasi yang relijius bahkan juga kampung letak masjid ini ada lalu di kenal dengan nama Kampung Mesjid, sedang ruas jalan dimuka kubah masjid ini dinamakan dengan nama Jalan Pangeran Bendahara yang disebut titel dari Said Abdurachman bin Assegaf, jadi bentuk penghargaan atas layanan jasanya.

Arsitektural Masjid Shiratal Mustaqim

Areal Masjid Shiratal Mustaqim seluas 2. 028 M2 dengan luas bangunannya 718. 32m2 terbagi dalam ruangan paling utama 418, 18 M2, Ruangan serambi depan 125, 56 M2, serta Ruangan serambi kanan kiri 174, 58 M2. Dibuat memakai bahan kayu Ulin, membuatnya demikian antik. Kayu ulin memanglah kayu dengan kwalitas paling baik terkecuali keras, kuat serta anti rayap kayu ini sangat tahan pada cuaca. Lumrah apabila bangunan Kubah Masjid ini masih tetap berdiri kuat sampai saat ini walau telah berusia 120 th. lebih.

Kubah Masjid Shirothal Mustaqim dibuat dalam arsitektural ciri khas Indonesia, berdenah sisi empat, dengan atap limas bersusun di topang empat sokoguru masing masing berdiameter kurang lebih 60cm di dalam ruangan masjid. Pembeda paling utama Kontraktor Kubah Masjid Shirothal Mustaqim dengan masjid masjid tua Indonesia yang lain yaitu susunan atapnya yang terbagi dalam 4 susun. Umumnya masjid masjid tua di tanah air terbagi dalam 3 susun saja.

Di setiap bagian bangunan paling utama diperlengkapi dengan serambi serta disetiap bagian serambi di kompliti dengan pagar (railing) yang di buat dari kayu ulin. Mihrab masjid ini di buat sendiri dengan atap yang berupa sama juga dengan atap bangunan paling utama. Menara masjid yang dibuat 20 th. sesudah masjid berdiri memanglah mempunyai sedikit ketidaksamaan arsitektural dari bangunan paling utama masjid, walau dibuat dengan bahan kayu yang sama. Keseluruhnya Jendela pada bangunan masjid ini berupa sisi empat dengan dua daun jendela begitupula dengan pintu pintunya, tetapi pada bangunan menara tidak memakai bentuk sisi empat namun memakai alur lengkungan pada tiap-tiap bukaannya.

Menara masjid Shirothal Mustaqim setinggi 21 mtr. dengan empat lantai masing masing lantai diperlengkapi dengan balkoni terbuka. Bentuk puncak atap menara ini yang begitu unik serta menarik karna begitu berlainan dengan bentuk puncak puncak menara masjid tua yang lain yang berada di Indonesia, ditambah sekali lagi dengan bahan bangunanannya yang memakai kayu besi juga membuatnya demikian istimewa.

Masjid Kubah Putih, Masjid Raya Bandung Jawa Barat

“Urang Bandung” masih tetap mengingat masjid ini jadi Masjid Agung Bandung, masjid megah berarsitektural ciri khas Indoensia dengan atap limas di alun alun kota Bandung. Tetapi Masjid Agung Bandung dengan Alun alun nya dahulu itu, saat ini telah tidak ada sekali lagi, bertukar dengan satu masjid Megah dengan menara kembar yang demikian menguasai ruangan langit kota Bandung. Masjid Agung Bandung itupun saat ini bertukar nama jadi Masjid Raya Bandung Provinsi Jawa Barat. Nama Jawa Barat melekat pada nama masjid ini karna memanglah masjid ini saat ini jadi Masjid Agung Provinsi untuk Provinsi Jawa Barat.

Masjid Raya Bandung Provinsi Jawa Barat yang dahulu di kenal dengan Masjid Agung Bandung, usai dibuat kembali keseluruhannya pada 13 Januari 2006. Pembangunan itu termasuk juga dengan pengaturan lagi Alun-alun Bandung, pembangunan dua lantai lantai dasar serta taman. Dengan resmi pembangunan fisik masjid, memerlukan saat : 829 hari atau 2 th. 99 hari, mulai sejak penempatan batu pertama 25 Februari 2001 hingga peresmian Masjid Raya Bandung 4 Juni 2003 yang diresmikan oleh Gubernur Jawa Barat (waktu itu) H. R. Nuriana.

Seperti yang kita saksikan saat ini ada dua menara kembar di bagian kiri serta kanan masjid setinggi 81 mtr. yang senantiasa di buka untuk umum sehari-hari Sabtu serta Minggu. Atap masjid ditukar dari atap joglo jadi satu kubah besar pada atap tengah serta kubah lebih kecil pada atap kiri-kanan masjid, dinding masjid terbuat dari batu alam kwalitas tinggi. Saat ini luas tanah keseluruhnya masjid yaitu 23. 448 m² dengan luas bangunan 8. 575 m² serta bisa menyimpan sekitaran 12. 000 jamaah.

Disamping itu halaman depan masjid yang dirombak. Parkir kendaraan diletakkan di lantai dasar sesaat sisi atasnya yaitu taman, satu ruang umum tempat orang-orang berkumpul. Ini yaitu satu diantara usaha pemkot kembalikan nilai Alun-alun seperti jaman dulu. Ruangan bawah tanah untuk tempat parkir itu juga awal mulanya direncanakan untuk menyimpan beberapa pedagang jalanan (PKL).

Sekarang ini, dua menara kembar yang mengapit bangunan paling utama masjid bisa dinaiki pengunjung. Di lantai teratas, lantai 19, pengunjung bisa nikmati panorama 360 derajat kota Bandung. Dari puncak menara kita bisa lihat muka kota Bandung dari atasnya. Dua menara yang cukup tinggi ini terkecuali bisa lihat kota Bandung dari puncaknya, menara ini tampak dengan terang dari beragam bagian kota Bandung.

Mulai sejak dahulu saat masih tetap bernama serta berstatus jadi Masjid Agung Bandung, Masjid ini memanglah meriah dengan beragam kesibukan teratur termasuk juga aktivitas remaja Islam yang tergabung dalam Remaja Islam Masjid Agung (RISMA) Bandung. Di bln. Ramadan. nyaris tidak sempat ada saat kosong mulai dari shubuh sampai terlepas tarawih. Mulai sejak shubuh telah aktivitas kuliah subuh untuk remaja serta dewasa. Disambung dengan majelis ta’lim sampai mendekati dzuhur. Lantas dilanjutkan tadarus sampai terlepas Ashar serta berbuka dengan. Selesai berbuka, beberapa jamaah umum shalat maghrib dengan dilanjutkan isya serta tarawihan.

Sepanjang bln. suci Ramadan, Masjid Raya Bandung sering mengadakan pesantren kilat bekerja bersama dengan beberapa sekolah di Bandung. Umumnya sebelumnya masuk bln. Ramadhan pihak sekolah telah menghubungi masjid untuk mengadakan pesantren kilat (SANLAT) untuk anak anak didiknya. Pengajar-pengajarnya di ambil dari mudaris Masjid Raya Bandung serta beberapa Remaja Masjid.

Waktu pesantren kilat sekitar tiga hari sampai 1 minggu. Aktivitas diawali dari siang sampai mendekati maghrib. Sepanjang bln. suci Ramadhan, Masjid Raya Bandung juga sediakan ta’jil gratis sehari-hari sepanjang satu bulan penuh untuk beberapa jemaah. Sehari-harinya, tidak kurang dari 15 ribu jemaah memadati masjid paling besar Jawa Barat ini. So. Apabila tengah ke Bandung janganlah cuma ingat untuk shoping semata ya, ingat juga untuk berkunjung ke Masjid Raya Bandung Provinsi Jawa Barat.

Kubah Masjid Hijau di Masjid Raya Darussalam Samarinda

Berdiri megah di tepian sungai Mahakam, Masjid Raya Darussalam mendatangkan nuansa Turki Usmani di pusat kota Samarinda ibukota provinsi Kalimantan Timur. Masjid bergaya Turki Usmani (Otoman) bisa dengan gampang dikenali dari bentuk menara nya yang di buat seramping serta setinggi mungkin saja. Menara berbentuk ini memanglah memberi kesan yang jauh berlainan apabila dibanding dengan masjid bergaya Arabi seperti pada Masjid Islamic Center Samarinda yang berada ditepian sungai Mahakam serta terpaut tidak sangat jauh jaraknya dari masjid ini.

Masjid Raya Darrusalam yaitu masjid paling besar ke-2 di Samarinda serta di propinsi Kalimantan Timur sesudah Masjid Islamic Center Samarinda. Masjid Raya Darussalam dari kejauhan-pun segera bisa dikenali dengan empat menara tinggginya yang dibuat di ke-empat penjuru bangunan paling utama masjid ditambah dengan kubah masjid besar warna hijau di atap tengah masjid serta di apit oleh sebagian kubah masjid memiliki ukuran kecil.

Tempat Masjid Raya Darussalam – Samarinda

Masjid Raya Darussalam ada di di kelurahan Pasar Pagi, Kecamatan Samarinda Ilir, kota Samarinda, provinsi Kalimantan Timur. Kelurahan Pasar Pagi adalah satu diantara pusat keramaian kota Samarinda. Pasar pagi sebagai nama kelurahan ini benar benar bangunan pasar pagi yang letaknya cuma terpisah satu blok bangunan dari Masjid Raya Samarinda.

Histori Masjid Raya Samarinda

Bangunan awal masjid Raya Darussalam dibuat oleh beberapa saudagar Bugis serta Banjar yang tinggal di Samarinda sekitaran th. 1925. Tempatnya waktu itu ada di tepian sungai Mahakam di atas tempat memiliki ukuran 25 mtr. x 25 mtr.. Mulai sejak dibuat pertama kalinya sudah alami sekian kali perbaikan salah satunya th. 1953 serta 1967 walau tanpa ada mengubah ciri khasnya. Mulai sejak pertama kalinya dibuat masjid ini jadi masjid Jami’ (masjid yang digunakan untuk sholat Jum’at terkecuali sholat lima saat yang lain).

Bersamaan dengan perkembangan Kota Samarinda yang makin cepat diperlukan bangunan masjid yang semakin besar dengan tempat yang lebih luas, jadi tempat masjidpun berubah ke Jalan Yos Sudarso dengan tempat seluas sekitaran 15 ribu mtr. persegi. Bangunan masjid yang saat ini berdiri yaitu hasil pembangunan th. 1990-an, diresmikan pemakaiannya oleh Dr. H. Tarmizi Taher – Menteri Agama RI, pada tanggal 21 Rabi’ul Akhir 1418H bertepatan dengan tanggal 25 Agustus 1997M. Masjid berkonstruksi beton ini berlantai tiga serta dapar menyimpan sekitaran 14. 000 jemaah. Di lingkungan masjid ini diperlengkapi taman, kolam serta perpustakaan.

Di bln. September th. 2010 pernah ada wacana untuk merubah Masjid Raya Darussalam jadi Masjid Agung. Wacana itu dikemukakan Kanwil Kemenag Kalimantan timur, dasarnya yaitu Ketentuan Menteri Agama (KMA) Nomor 394 th. 2004 mengenai penetapan status masjid lokasi. Disana dijelaskan, di satu provinsi, mesti ada masjid yang dimaksud masjid raya. Sesaat tingkat kabupaten/kota bernama masjid agung.

Wacana itu segera memperoleh penolakan dari Wali Kota Samarinda Achmad Amins, penolakan dari walikota ini didukung oleh tokoh orang-orang Samarinda termasuk juga dari Dewan Masjid Indonesia (DMI) seperti di sampaikan oleh sekretaris DMI Samarinda, HM Yusuf Mugenie. Penolakan itu didasarkan pada argumen histori serta untuk menghormati beberapa pendiri masjid Raya Darussalam, ditambah sekali lagi kenyataan kalau nama Masjid Raya telah menempel di hati orang-orang Samarinda serta Kalimantan timur.

Turki Usmani atau dalam lidah orang Eropa yang tidak pintar mengatakan Usmani beralih jadi Otoman, mewariskan seni bina bangunan masjid dengan gayanya sendiri diikuti dengan sebagian ciri paling utama salah satunya yaitu bentuk menara seperti yang telah sedikit disinggung dimuka, menara masjid bergaya Usmani diikuti dengan bentuk bundar, ramping, tinggi menjulang dengan puncak menara yang meruncing serta tidak sempat tidak hadir simbol bln. sabit di ujung teratas menara.

Di Masjid Raya Darussalam Samarinda empat menara masjid ditempatkan di empat penjuru bangunan paling utama masjid. Warna putih menguasai bangunan menara. Sedikit kekhasan pada kubah masjid paling utama Masjid Raya Darussalam ini, Kontraktor kubah masjid paling utama memiliki ukuran besar itu diapit oleh delapan kubah masjid memiliki ukuran lebih kecil yang melekat pada kubah masjid paling utama. Empat kubah lebih kecil juga hiasi keempat penjuru atap masjid ini. Ornament ciri khas Kalimantan hiasi bagian luar masing masing kubah masjid berikan kelebihan sendiri untuk masjid ini.

Masjid Raya Samarinda diperlengkapi dengan Teras dengan bukaan besar berlengkung, sana seperti teras keseluruhnya jendela masjid ini diperlengkapi dengan ornament lengkungan. Masuk kedalam masjid, akan didapati ruangan sholat yang lega tanpa ada tiang tiang penyanggah susunan atap di dalam masjid. Ruangan sholat Masjid Raya Samarinda diperlengkapi dengan lantai mezanin. Keseluruhannya Masjid Raya Samarinda dapat menyimpan jemaah sampai empat belas ribu jemaah sekalian.

Warna hijau menguasai warna karpet sejadah di ruangan sholat, warna yang seirama dengan warna plafon (langit langit) masjid. Seperti umumnya masjid masjid yang lain, dinding bagian mihrab masjid Raya Darussalam Samarinda juga dilapisi dengan bahan bewarna lebih gelap dibanding bagian dinding yang beda. Serta tidak ketinggal juga lampu lampu gantung di gunakan dilangit langit masjid ikut memperindah masjid ini.