Masjid Tertua di Samarinda : Masjid Shirothal Mustaqim

Kota Samarinda dipercayai dibangun oleh orang Bugis dari Kerajaan Gowa sesudah Kerajaan Gowa ditaklukkan oleh Belanda sekitaran era 16. Beberapa pejuang Bugis yang menentang Belanda pilih untuk berhijrah ke daerah yang dikuasai oleh Kerajaan Kutai saat itu. Kehadiran mereka ini diterima baik oleh Raja Kutai yang diperlihatkan dengan pemberian tempat pemukiman di sekitaran kampung melantai, satu daerah dataran rendah yang baik untuk usaha Pertanian, Perikanan serta Perdagangan.

Dengan kesepakatan kalau beberapa orang Bugis Wajo mesti menolong semua kebutuhan Raja Kutai, terlebih di dalam hadapi musuh. Beberapa orang Bugis Wajo mulai tinggal di tempat itu pada bln. Januari 1668. Lama kelamaan lokasi ini berkembang serta di kenal dengan sebutan Samarinda, yang datang dari kata “sama rendah” yang ditujukan untuk tunjukkan kesamaan hak serta kedudukan orang-orangnya.

Sekitaran th. 1880, datang seseorang pedagang muslim dari Pontianak, Kalimantan Barat bernama Said Abdurachman bin Assegaf ke Kerajaan Kutai untuk berdagang sambil menyiarkan Agama Islam, ia pilih lokasi Samarinda Seberang jadi rumahnya. Hal tersebut disikapi dengan baik oleh Sultan Kutai Aji Muhammad Sulaiman. Lihat ketekunan serta ketaatan Said Abdurachman dalam menjalaankan syariat agama Islam, sultan mengizinkan Said Abdurachman tinggal di lokasi Samarinda Seberang serta memberikannya titel jadi Pengeran Bendahara.

Jadi tokoh orang-orang, Said Abdurachman mengemban pekerjaan serta tanggungjawab yang besar. Bermula dari keprihatianannya pada keadaan orang-orang saat itu yang masih tetap sukai berjudi (disiang hari judi sabung ayam, malam hari judi dadu) serta memyembah berhala, beliau tergerak hati untuk membuat satu masjid yang tempatnya di pusat aktivitas itu dengan keinginan bisa hentikan aktivitas maksiat serta sesat itu.

Pembangunan masjid ini diawali pada th. 1881M dengan pemancangan 4 tiang paling utama (soko guru). Ke emat soko guru itu adalah sumbangan dari tokoh kebiasaan saat itu, 1 tiang paling utama dari Kapitan Jaya dihadirkan dari loa Haur (Gunung Lipan), 1 tiang paling utama dari Pengeran Bendahara dihadirkan dari Gunung Dondang, Samboja, 1 tiang paling utama dari Petta Loloncang di datangkan dari Gunung Salo Tireng (Sungai Tiram) serta 1 tiang paling utama yang lain dari dihadirkan dari Suangai Karang. Pemancangan empat sokoguru ini mempunyai narasi sendiri yang melegenda sampai saat ini ditengah orang-orang Samarinda.

Pembangunan masjid ini menelan saat cukup lama untuk merampungkannya hingga sepuluh th.. Pada tanggal 27 Rajab 1311 Hijriyah (1891M), pembangunan masjid pada akhirnya rampung serta diresmikan oleh Sultan Kutai Aji Muhammad Sulaiman yang sekalian di daulat jadi imam sholat untuk pertama kalinya yang diadakan di Masjid Shirothal Mustaqim. Lokasi tempat masjid ini ada juga lalu beralih keseluruhan jadi lokasi yang relijius bahkan juga kampung letak masjid ini ada lalu di kenal dengan nama Kampung Mesjid, sedang ruas jalan dimuka kubah masjid ini dinamakan dengan nama Jalan Pangeran Bendahara yang disebut titel dari Said Abdurachman bin Assegaf, jadi bentuk penghargaan atas layanan jasanya.

Arsitektural Masjid Shiratal Mustaqim

Areal Masjid Shiratal Mustaqim seluas 2. 028 M2 dengan luas bangunannya 718. 32m2 terbagi dalam ruangan paling utama 418, 18 M2, Ruangan serambi depan 125, 56 M2, serta Ruangan serambi kanan kiri 174, 58 M2. Dibuat memakai bahan kayu Ulin, membuatnya demikian antik. Kayu ulin memanglah kayu dengan kwalitas paling baik terkecuali keras, kuat serta anti rayap kayu ini sangat tahan pada cuaca. Lumrah apabila bangunan Kubah Masjid ini masih tetap berdiri kuat sampai saat ini walau telah berusia 120 th. lebih.

Kubah Masjid Shirothal Mustaqim dibuat dalam arsitektural ciri khas Indonesia, berdenah sisi empat, dengan atap limas bersusun di topang empat sokoguru masing masing berdiameter kurang lebih 60cm di dalam ruangan masjid. Pembeda paling utama Kontraktor Kubah Masjid Shirothal Mustaqim dengan masjid masjid tua Indonesia yang lain yaitu susunan atapnya yang terbagi dalam 4 susun. Umumnya masjid masjid tua di tanah air terbagi dalam 3 susun saja.

Di setiap bagian bangunan paling utama diperlengkapi dengan serambi serta disetiap bagian serambi di kompliti dengan pagar (railing) yang di buat dari kayu ulin. Mihrab masjid ini di buat sendiri dengan atap yang berupa sama juga dengan atap bangunan paling utama. Menara masjid yang dibuat 20 th. sesudah masjid berdiri memanglah mempunyai sedikit ketidaksamaan arsitektural dari bangunan paling utama masjid, walau dibuat dengan bahan kayu yang sama. Keseluruhnya Jendela pada bangunan masjid ini berupa sisi empat dengan dua daun jendela begitupula dengan pintu pintunya, tetapi pada bangunan menara tidak memakai bentuk sisi empat namun memakai alur lengkungan pada tiap-tiap bukaannya.

Menara masjid Shirothal Mustaqim setinggi 21 mtr. dengan empat lantai masing masing lantai diperlengkapi dengan balkoni terbuka. Bentuk puncak atap menara ini yang begitu unik serta menarik karna begitu berlainan dengan bentuk puncak puncak menara masjid tua yang lain yang berada di Indonesia, ditambah sekali lagi dengan bahan bangunanannya yang memakai kayu besi juga membuatnya demikian istimewa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *